Monday, September 17, 2012

Cara Melontar Jumrah

Adapun cara melontar jumrah adalah sebagai berikut :
  • Melontar masing-masing Jumrah yaitu melontar tujuh butir kerikil dengan tujuh kali lontaran. bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar awal melontar jumrah dengan 49 butir kerikil yaitu tujuh butir untuk jumrah aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah, dan masing-masing tujuh butir untuk jumrah Ula, jumrah Wusta dan jumrah Aqabah pada tangggal 12 Zulhijjah. sedangkan bagi yang melaksanakan Nafar Sani melontar jumrah dengan 70 butir kerikil yaitu ditambah lagi dengan masing-masing tujuh butir untuk jumrah Wusta dan jumrah Aqabah pada tanggal 13 Zulhijjah.
  • Melontar jumrah yang dilakukan secara jama' yaitu melontar jumrah sekaligus pada hari-hari tasyrik di nafar awal atau nafar sani dibolehkan.
Adapun cara melontar jumrah sebagai berikut :
Jika seseorang tidak melontar pada hari pertama, dapat dilakukan pada hari kedua atau ketiga.
caranya, mulai dari junrah Ula, Wusta dan Aqabah secara sempurna sebagai lontaran untuk pertama.
Kemudian mulai lagi dengan jumrah Ula, Wusta hingga lontaran dijamak sampai hari ketiga.
Jika dari hari Nahar belum sempat melontar jumrah aqabah, maka melontarnya didahulukan sebelum melontar jumrah yang lain.
  •  Tertunda melontar jumrah Aqabah.
Waktu melontar jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijjah boleh diakhirkan sampai malam hari atau keesokan harinya (tanggal 11 Zulhijjah) batas akhir melontar jumrah Aqabah pada hari tasyrik terakhir, dengan cara harus disempurnakan lonataranya satu persatu secara beruntun.
  •  Mewakilkan melontar jumrah
bagi yang berhalangan boleh mewakilkan kewajiban melontar jumrah kepada orang lain. Caranya dilakukan dengan mendahulukan melontar jumrah Ula untuk dirinya., kemudian melontar untuk yang jumrah Wusta dan Aqabah.

Friday, August 24, 2012

Kerukunan

Kerukunan sebagai istilah yang mudah untuk disebut setiap orang, tetapi menjadi rumit untuk diwujudkan. Al-Qur'an telah memberikan petunjuk dalam memelihara kerukunan, diantaranya dengan mengembangkan sikap terbuka sesama muslim, betapapun besarnya perbedaan personal dalam paham atau ataupun tingkah laku. setiap orang harus tetap menunjukkan sikap rukun (solid). Hal ini bukanlah perkara mudah, memerlukan tingkat ketulusan dalam pandangan islam.

1.  Pengertian kerukunan
Kerukunan dalam bahasa Arab disebut dengan kata tawaafuqun, tawaddun, ittifaqul kamilati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kerukunan diartikan dengan kelapangan dada, dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirianlain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan berkeyakinan lain. Kerukunan itu adalah satu tata pikir atau sikap hidup (thalent attitude) yang menunjukkan kesabaran dan kelapangan dada menghadapi pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pendirian orang. Dalam istilah agama islam,kerukunan itu dinamakan tasamuh, yaitu membiarkan secara sadar terhadap pikiran atau pendapat orang lain. Orang yang demikian dinamakan toleran.
Kerukunan itu membentuk sikap lahiriah manusia dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia dalam masyarakat. Ciri-ciri kerukunan diantaranya tergambar dalam kebesaran jiwa seseorang, keluasan paham dan pengertiannya, serta lapang dada dan sabar menghadapi pendapat-pendapat atau pendirian orang lain yang bertentangan dengan pendapat dan pikirannya sendiri. Di dalamnya, termasuk kerukunan karena perbedaan kepercayaan agama.

2.   Karakteristik Kerukunan
Sifat kerukunan menghendaki bahwa perbedaan agama, kepercayaan, keyakinan dan pendirian, serta paham dan penilaian tidak boleh membuat satu garis pemisah yang memengaruhi hubungan di segala bidang kehidupan. Semua harus senantiasa diciptakan hubungan yang harmoni serta menjauhkan sikap yang kaku dan konfrontatif. kerukunan membentuk watak manusia supaya bersikap menahan diri, lapang dada, dan luwes (flexibility) .Islam tidak mengenal unsur-unsur paksaan. Hal ini berlaku mengenai cara, tingkah laku, dan sikap hidup dalam segala keadaan,serta dipandang sebagai satu hal yang pokok/esensial. Islam bukan saja mengajarkan supaya tidak melakukan kekerasan dan paksaan, tetapi diwajibkannya pula supaya seorang muslim menghormati agama lain serta menghargai pemeluk-pemeluknya dalam pergaulan.
Kerukunan dalam ajaran islam memmiliki batas-batas yang harus diperhatikan. Sikap kerukunan ini tidak boleh memaksa atau merugikan kepada kaum muslimin sendiri.Islam memberikan perlindungan terhadap pemeluk lain yang ingin hidup secara damai dalam masyarakat atau pemerintahan yang dikuasai oleh kaum muslimin. Meraka akan diperlakukan dengan baik dan adil sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani pada zaman pemerintahan Rasulullah di Madinah. Kaum muslimin diikat oleh suatu peraturan supaya hidup bertetangga dan bersahabat dengan orang yang memeluk agama lain. Hak-hak meraka tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dilanggar.