Friday, May 25, 2012

Keyakinan Kepada Allah

KEYAKINAN KEPADA ALLAH

Allah, zat Yang Maha Mutlak itu,menurut ajaran Islam, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu mengenai Tuhan disebut ketuhanan. Ketuhahan Yang Maha Esa Menjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Menurut pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 Negara Berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Hazairin (seperti sudah sudah disebut juga didepan) (Hazairin, 1970:58), istilah Ketuhanan Yang Maha Esa diciptakan oleh otak, pengertian dan iman orang Islam Indonesia, sebagai terjemahan kata-kata yang terhimpun dalam Allahu al wahidu-l-ahad (baca: Allahu alwahidulahad) yang berasal dari al-Qur'an surat al-Baqarah (2):163 dan surat al-Ikhlas(112):1 Al wahidu-l-ahad itu-lah yang diterjemahkan dengan Yang Maha Esa, yang sebelum tahun 1945 (perkataan itu) tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Menurut akidah Islam, konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut Tauhid. Ilmunya adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu tentang kemaha Esaan Tuhan Osman Raliby, 1980: 8).
Menurut Osman Raliby ajaran Islam tentang Kemaha Esaan Tuhan adalah sebagai berikut:
  1. Allah Maha Esa Dlam Zat-Nya.
    Kemaha Esaan Allah dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa Zat Allah tidak sama dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Dia unique (unik: lain dari semuanya), berbeda dalam segala-galanya. Zat Tuhan yang inuk atau Yang Maha Esa itu bukanlah materi yang terdiri dari beberapa unsur bersusun. Ia tida dapat disamakan atau dibandingkan dengan benda apa pun yang kita kenal, yang menurut ilmu fisika terjadi dari susunan atom, molekul dan unsure-unsur berbentuk yang takluk kepada ruang dan waktu yang dapat ditangkap oleh pancaindera manusia, yang dapat hancur musnah dan lenyap pada suatu masa.
    Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa sepeprti itu mempunyai konsekuensi. Konsekuensinya adalah bagi ummat Islam yang mempunyai akidah demikian, setiap atau segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra mempunyai bentuk tertentu, tunduk pada ruang dan waktu, hidup memerlukan makanan dan minuman seperti manusia biasa, mengalami sakit dan mati, lenyap dan musnah, bagi seorang muslim bukan-lah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Allah Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya.
    Kemaha Esaan Allah dalam sifat-sifat-Nya ini mempunyai arti bahwa sifat Allah penuh kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada yang menyamainya. Sifat-sifat Allah itu banyak dan tidak dapat diperkirakan. Namun demikian, dari al-Qur'an dapat diketahui Sembilan puluh Sembilan (99) nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan al-Asma'ul Husna: Sembilan Puluh Sembilan Nama-nama Allah yang Indah. Di dalam Ilmu Tauhid, dijelaskan dua puluh sifat Tuhan, yang disebut dengan Sifat Dua Puluh, yaitu (1) Ada, (2) Azal, tidak ada permulaan-Nya, (3) Kekal, Abadi tidak berkesudahan, (4) Berbeda dengan segala ciptaan-Nya (yang baru), (5) Berdiri sendiri, (6) Maha Esa, (7) Berkuasa , Maha Kuasa, (8) Berkehendak, (9) Maha Mengetahui, (10) Hidup, (11) Maha Mendengar, (12) Maha Melihat, (13) Maha Berkata-kata, (14) Dalam Keadaan Berkuasa, (15) Dalam Keadaan Berkemauan, (16) Dalam Keadaan Berpengetahuan, (17) Dalam Keadaan Hidup, (18) Dalam Keadaan Mendengar, (19) Dalam Keadaan Melihat, dan (20) Dalam Keadaan Berkata-kata. Sebagai mahasiswa, yang perlu diketahui adalah bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu bersifat:
    1. Hidup. Ini berarti bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Hidup. Hidupnya itu Maha Esa atau unik (unique) tanpa memerlukan makanan, minuman, isntirahat dan sebagainya. Pendek kata: Allah Maha Esa dalam Hiudp-Nya. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah,setiap atau segala sesuatu yang bersifat hidupnya memerlukan makanan dan minuman, tidur dan sebagainya. Bagi seorang muslim bulanlah Allah dan tidak boleh dipandang sebgai Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
    2. Berkuasa. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa Kuasa. Kekuasaan-Nya Maha Esa, tiada bertara, tidak ada tolok bandingnya. Ia Maha Kuasa tanpa memerlukan pihak lain manapun juga dalam kekuasaan-Nya. Ia adalah Maha Kausa dengan sendri-Nya. Konsekuensi keyakinan yang dalam keyakinannya pada kekuasaan Allah, melampaui segala kekuasaan selain dari kekuasaan Allah. Dan sebagai akibatnya,seorang muslim tidak boleh takut pada kekuasaan lain yang ada dalam ala mini, baik kekuasaan itu berupa kekuatan-kekuatan alamiah maupun kekuasaan-kekuasaan insaniah.
    3. Berkehendak. Allah mempunyai kehendak. Kehendak-Nya Maha Esa dan berlaku untuk seluruh alam semesta, termasuk (masyarakat) manusia di dalamnya. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah, Kehendak atau Iradah Allah Tuhan Yang Maha Esa wajib diikuti oleh setiap muslim. Kehendak Allah yang masih asli, seperti telah disebut di muka, termaktub kini dalam al-Qur'an yang menjadi kitab suci ummat Islam. Selain itu, kehendak Allah dapat pula dijumpai pada ayat-ayat kauniyah di alam semesta berupa sunnatullah yaitu hokum-hukum Allah yang oleh para sarjana disebut laws of nature (hukum-hukum alam), (beberapa cirinya telah disebut dalam uraian manusia dan alam pada butir 1 di atas).
  3. Allah Maha Esa dalam perbuatan-perbautan-Nya.
    Pernyataan ini mengandung arti bahwa kita menyakini Tuhan yang Maha Esa tiada bebrtara dalam melakukan sesuatu, sehingga hanya Dialah yang dapat berbuat menciptakan alam semesta ini. Perbuatan-Nya itu unik, lain dari yang lain, tiada taranya dan tidak sanggup pula manusia menirunya. Kagumilah, misalnya, bagaimana Ia menciptakan diri diri kita sendiri dalam bentuk tubuh yang sangat baik, yang dilengkapi-Nya dengan pancaindra, akal, perasaan, kemauan, bahasa, pengalaman dan sebagainya. Perhatikan pula susunan kimiawi materi-materi yang ada di alam ini. Misalnya H2O, susunan kimiawi (materi) zat air, NO2, zat asam, dan sebagainya. Konsekuensi keyakinan bahwa Allah Maha Esa dalam berbuat (perbuatannya) adalah seorang muslim tidak boleh mengagumi perbuatan-perbuatan manusia lain dan karyanya sendiri secara berlebihan. Manusia, baik sebagai perseorangan maupun sebagai kolektivitas, betapapun genial (hebat atau luar biasa) nya, tidak boleh dijadikan obyek pemujaan apalagi kalau disembah pula.
  4. Allah Maha Esa dalam wujud-Nya.
    Ini berarti bahwa wujud Allah lain sama sekali dari wujud alam semesta. Ia tidak dapat disamakan dan dirupakan dalam bentuk apapun juga. Oleh karena itu Anthromorfisme (paham pengenaan ciri-ciri manusia pada alam seperti binatang atau benda mati apalagi pada tuhan) tidak ada dalam ajaran Islam. Menurut keyakinan Islam Allah Maha Esa. Demikian Esa-Nya sehingga wujudnya tidak dapat disamakan dengan alam atau bagian-bagian alam yang merupakan ciptaan-Nya ini. Eksistensi-Nya wajib. Karena itu ia disebut wajibul wujud pernyataan ini mempunyai makna bahwa hanya Allahlah yang abadi dan wajib eksistensinya atau wujud-Nya selain dari Dia, semuanya mumkinul wujud. Artinya boleh (mungkin) ada, boleh (mungkin) tiada seperti eksistensi manusia dan seluruh alam setiada seperti eksistensi manusia dan seluruh alam semestea ini yang pada waktunya pasti akan mati atau hancur binasa. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah setiap manusia muslim sebagai bagian alam, harus selalu sadar bahwa hidupnya hanyalah sementara di dunia ini, tempat ia diuji mengenai kepatuhan dan ketidak patuhannya pada perintah dan larangan-larangan Allah yang antara lain tercantum dalam syari'at-Nya. Pada suatu ketika kelak seluruh alam akan hancur binasa dan akan muncullah suatu Hidup sesudah Mati (Life after Death) yang sifatnya lain sama sekali dari apa yang kita lihat dan rasakan di dunia ini. Pada waktu itu nanti dihadapan Allah Tuhan Yang Maha Adil, masing-masing manusia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya selama hidup di bumi ini. Celakalah manusia yang bergelimang dalam dosa dan berbahagialah manusia yang beriman, yang yakin kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, dan takwa: mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.
  5. Allah Maha Esa dalam menerima ibadah.
    Ini berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan menerima ibadah. Hanya Dialah yang satu-satunya yang patut dan harus disembah dan hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan. yang dimaksud dengan ibadah adalah segala perbautan manusia yang disukai Allah, baik dalam kata-kata terucapkan maupun dalam bentuk perbautan-perbautan lain, yang kelihatan dan adalah hanya Dialah Allah yang wajib kita sembah, hanya kepada-Nya pula seluruh salat dan ibdah yang kita lakukan, kita niatkan dan kita persembahkan
  6. Allah Maha Esa dalam menerima hajat dan hasrat manusia
    Artinya, bila seorang manusia hendak menyampaikan maksud, permohonan atau keinginannya langsung sampaikan kepada-Nya, kepada Allah sendiri tanpa perantara atau media apa pun namnya. Tidak ada system rahbaniyah atau kependetaan dalam Islam. Semua manusia, kecuali para Nabi dan rasul, mempunyai kedudukan yang sama dalam berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa. Konsekuensi keyakinan ini adalah setiap muslim tidak memerlukan orang lain di dunia ini dalam menyampaikan hajat dan hasratnya kepada Allah.
  7. Allah Maha Esa dalam memberi hukum.
    Ini berarti bahwa Allahlah satu-satunya pemberi Hukum yang tertinggi. Ia memberi hukum kepada alam, seperti hukum-hukum alam yang selama ini kita kenal dengan sebutan hukum-hukum Archimedes, Boyle, Lavoisier, hukum relativitas, thermodynamic dan sebagainya. Ia pula yang memberi hukum kepada umat manusia bagaimana mereka harus hidup di muka bumi-Nya ini sesuai dengan ajaran-ajaran dan kehendak-Nya yang dengan sendirinya sesuai pula dengan hukum-hukum (yang berlaku di) alam semesta dan watak manusia, yang semuanya itu adalah ciptaan Allah. Konsekuensi keyakinan seperti ini adalah seorang muslim wajib percaya pada adanya 'hukum-hukum alam ' (sunnatullah) baik alam fisik maupun alam psikis dan spiritual yang terdapat dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan social. Sebagai muslimah kita wajib taat dan patuh serta meyakini kebenaran hukum syari'at Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada manusia dan menjadikannya sebagai jalan hidup kita. Jalan hidup yang dikehendaki Allah, menurut akidah, adalah jalan hidup Islam. Jalam hidup islam itu disebut juga dengan jalan syari'at Islam. Dan karena syari'at Islam pula Syari'at atau Hukum Allah, kosekuensinya adalah bagi ummat Islam yang secara teoritis dan praktis dengan bebas telah memilih Islam sebagai agamanya, tidaklah ada jalan lain yang lebih baik yang harus ditempuhnya selain berusaha sekuat tenaga mengikuti jalan hidup Islam itu sebaik-baiknya (Osman Raliby, 1980: 8-14, 20).
SUMBER : Pendidikan Agama Islam, Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment